Ketum Komnas PA Indonesia, Arist Merdeka Sirait (Foto: ist).

Nasional

Dimasa Pandemi Covid-19, Secara Nasional Angka Kekerasan Seksual Terhadap Anak Meningkat, Apakah Termasuk Sultra?

La Ode Ali 30-09-2020 | 21:00PM

JAKARTA, - Dimasa pamdemi Covid-19, secara nasional angka kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan.

Ketua Umum (Ketum) Komnas Perlindungan Anak Indonesia, Arist Merdeka Sirait mengatakan, berdasarkan data dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlinduangan Anak dimasa pandemi Covid-19 sejak Maret hingga akhir Juli 2020 terdapat 5700 kasus pelanggaran terhadap anak atau 56,12 persen yang didominasi oleh kejahatan seksual.

"Jadi kalo kita bandingkan sebelum pandemi angka kejahatan anak terus meningkat antara 50 sampai 52 persen yang didominasi kejahatan seksual," kata Arist Merdeka Sirait melalui sambungan telepon, Rabu (30/9/2020).

Kemudian lanjut Arist, berdasarkan laporan yang masuk di Komnas Perlindungan Anak Indonesia, dimasa pandemi Covid-19, ada 2700 an lebih kasus anak atau sebesar 52 persen yang juga didominasi oleh kejahatan seksual terhadap anak.

"Sementara dilaporan di Komnas Perlindungan Anak ada 2700 an lebih dari berbagai lembaga perlindungan anak di berbagai daerah itu justru 52 persen juga didominasi oleh kejahatan seksual yang bersifat nasional, itu yang terlaporkan atau yang terkonfirmasi, belum Lagi itu data-data yang tersebar di tempat-tempat lain," ungkapnya.

"Jadi dua lembaga ini sudah menunjukan bahwa masa pandemi angka kekerasan seksual terhadap anak ini sangat tinggi. Nah kalo kita turunkan ke Sulawesi Barat, ya saya kira cukup tinggi, Sulawesi Tenggara juga, termasuk Sulawesi Utara," sambung Opung (sapaan akrab Arist Merdeka Sirait).

Baca Juga: Komnas Anak Indonesia Angkat Bicara Soal Dugaan Pencabulan Anak di Buton

Untuk itu tambah Opung, mengingat masa pandemi Covid-19 dewasa ini, langkah yang dilakukan untuk menekan angka kejahatan terhadap anak tersebut yaitu antara lain gerakan perlindungan anak harus dimulai dari rumah dengan menciptakan suasana rumah yang ramah dan bersahabat.

Baca Juga: Keluarga Tersangka Kasus Dugaan Pencabulan Anak Dibawah Umur di Buton Minta Penangguhan Penahanan

"Karena ini dimasa Covid-19, maka gerakan anak mulai dari berbasis rumah dan kampumg, kan ini anak-anak pada di rumah semua, orang tua juga begitu. Sementara angka kekerasan anak dimasa pandemi cukup tinggi, maka gerakan perlindungan anak itu harus dimulai dari rumah dengan menciptakan rumah yang ramah dan bersahabat dengan anak, dengan demikian kampung juga turut menjaga anak-anak dimasa pandemi ini, dan keluarga harus menjadi garda terdepan untuk melindungi anak-anak," jelasnya.